Saya
tak pernah berimpi jika akan menjadi pustakawan, mendengar nama
pustakawan saja tak terbayangkan sebelumnya. Seingatku dulu sewaktu
kecil jika di tanya : cita-citamungin jadi apa ? Aku suka menjawab
menjadi polosi atau tentara. Tapi di tahun aku hampir lulus SMA, aku
justru tak yakin denggan cita-cita masa kecilku. Benar- bernar labil
!
Akupun
mencoba untuk mewujudkan cita-cita itu namun akhirnya berhenti di
tengah jalan entah mengapa semangatku patah seketika. Aku meyakini
bahwa segala yang terjadi selalu ada hikmahnya. Gagal mengejar
cita-cita tak membuatku surut untuk kuliah. Kuliah bagi jiwa muda
saya menaiki jenjang pendidikan intelektualitas. Jadi apapun yang
terjadi, apapun jurusannya, aku tak terlalu peduli, yang penting
kuliah.
Setelah
itu ibu pun menyarankan agar saku memilis studi program Diploma 2
perpustakaan FISIP Universitas Terbuka, aku pun mengiyakan saran ibu.
Aku samasekali tak punya gambaran seperti apa jurusan ilmu
perpustakaan itu, apa yang akan aku pelajari dan akan jadi apa aku
nantinya. Semua akan aku jalani dengan senang hati. Aku belajar
Pengantar Ilmu Perpustakaan, Katalogisasi, Inventarisasi, Klasifikasi
Bahan Pustaka, Preservasi Bahan Pustaka, Dokumentasi, Arsip,
Menjemen, informasi tekhnologi dan masih banyak lagi.
Satu
smester saya jalani, Ok, jurusan ini ternyata menarik ! Banyak hal
baru yang aku temukan, bahwa ternyata dunia perpustakaan itu
sangatlah kompleks bahwa bekerja di perpustakaana itu tidak hanya
mngurusi buku. Mengelola dan memberi informasi yang tepat adalah
tugas utama pustakawan. Tidak hanya mengerjakan tugas-tugas secara
teknis, tapi juga harus mempersenjatai diri dengan banyak pengetahuan
di luar ilmu perpustakaan, apakah itu menjeman, psikologi, sejarah,
kesehatan, bahkan kalo bisa sih harus menguasai segala ilmu, di
tuntut harus serba tahu dan serba bisa, karena itu yang dituntuk
pengguna perpustakaan.
Meskipun
demikian, masih saja ada masalah yang mengganguku, yaitu bagaimana
menjelaskan pada orang tentang betapa menariknya jurusan perpustakaan
yang aku pilih ini. Jika orang bertanya, “ Dik, kuliah teng pundi ?
Jurusan nopo ? ” dalam bahasa jawa : ( Dik kuliah dimana ? Jurusan
apa ? ) Kadang aku malu menjwabnya. Seketika aku jawab “ teng UT
Pak/Bu, Perpustakaan “ ( di Universitas Terbuka Pak/bu,
Perpustakaan ). dalam benaku mgkin mereka berpikir “ jurusan apa
itu ? Mau jadi apa kuliah di perpustakaan ? Masa mau jagain buku aja
perlu kuliah ? “
Aku
bingung harus dari mana menjelaskannya? Rasanya eksistensi profesi
pustakawan seolah-olah tidak ada artinya. Rasanya pustakawan bukanlah
profesi keren bagi masyarakat umum tidak sekeren profesi Polisi,
Tentara, Guru. Kenapa bisa begitu ? Serta merta hatiku tertohok,
kepercayaan diriku luruh. Aku sempat bertanya pada orangtuaku “ apa
ibu bangga aku jadi pustakawan ? “ ibu pun menjawab “ ibu bangga fer sama kamu, melakukan apapun profesi yang kamu pilih dengan baik,
dengan ikhlas sepenuh hati dan penuh taggungjawab akan berbuah manis,
jika profesimu dijalani dengan setengah hati itu tak akan ada
manfaatnya untuk siapapun”. Aku jadi teringat dengan sebuah hadist
yang berbunyi “ sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk
sesama “ dan kini itu menjadi perisip hidupku.
Aku
yakin suatu saat aku akan menemukan jawaban atas pertanyan mereka
agar mereka memahami bahwa profesi pustakawan juga profesi yang keren
dan tidak boleh diremehkan !
Terimakasih Tuhan atas nikmat yang kau berikan hingga kini dan terimakasih Ayah dan Ibu atas dukungan dan semangatnya.